

Hidup di zaman serba cepat bikin kita terus dibanjiri informasi tanpa henti. Notifikasi grup kerja, chat keluarga, deadline yang numpuk, plus ekspektasi sosial dari media sosial, semua bercampur jadi satu tekanan yang sering kita anggap “normal”. Padahal menurut WHO, stres kronis bisa meningkatkan risiko gangguan mental dan fisik seperti kelelahan, kecemasan, hingga penyakit serius.
Banyak orang, terutama generasi muda, terlihat produktif dan sibuk, tapi sebenarnya menyimpan stres yang tidak terlihat. Multitasking jadi gaya hidup, padahal itu bikin otak cepat lelah. Sayangnya, manajemen stres belum dianggap prioritas. Banyak yang baru “istirahat” saat sudah burnout atau jatuh sakit, padahal mengelola stres berdampak besar ke kesehatan fisik dan finansial.
Saat stres tidak tertangani, performa kerja menurun dan risiko kehilangan penghasilan meningkat. Itu sebabnya bukan cuma mental yang perlu dijaga, tapi juga punya perlindungan seperti asuransi jiwa. Karena kalau satu waktu kita benar-benar jatuh secara kesehatan, setidaknya keluarga tetap aman secara finansial.
5 Penyebab Stres di Era Digital
Kenapa generasi sekarang lebih sering stres? Ini beberapa pemicunya:
-
Overload Informasi
Di era sekarang, kita menerima ratusan konten setiap hari: berita, tugas kerja, notifikasi chat, hingga media sosial. Terlalu banyak informasi membuat otak sulit memproses semuanya. Akibatnya, pikiran terasa terus aktif bahkan saat sedang beristirahat. Informasi yang berlebihan ini memicu kecemasan, sulit fokus, dan membuat otak cepat lelah.
-
Tekanan untuk Selalu Responsif dan Produktif
Banyak tempat kerja mengharapkan karyawan selalu standby, bahkan di luar jam kantor. Karena komunikasi serba digital, ada rasa bersalah jika tidak cepat membalas. Kondisi ini menciptakan stres jangka panjang karena otak tidak pernah benar-benar “off”. Produktivitas memang meningkat, tapi kesehatan mental sering jadi korban.
-
Perbandingan Sosial lewat Media Sosial
Scrolling di media sosial sering membuat kita membandingkan diri dengan orang lain. Melihat pencapaian teman, gaya hidup glamor, atau wajah yang selalu terlihat bahagia bisa membuat kita merasa kurang dan gagal. Perbandingan ini menggerus rasa percaya diri dan membuat stres walaupun sebenarnya hidup kita baik-baik saja.
-
Tidak Batas antara Waktu Kerja dan Istirahat
Bekerja dari rumah bikin jam kerja lebih fleksibel, tapi justru banyak yang bekerja jauh lebih lama tanpa sadar. Tidak ada batas jelas antara ruang kerja dan ruang pribadi. Akibatnya, tubuh dan pikiran sulit mendapatkan istirahat berkualitas, dan stres menjadi kronis.
-
Screen Time Berlebihan tanpa Istirahat Mental
Menatap layar laptop atau ponsel terlalu lama berdampak pada kelelahan mata dan otak. Screen time berlebihan mengurangi kualitas tidur, mengganggu hormon, dan membuat pikiran sulit fokus. Tanpa istirahat mental, stres bisa menumpuk dan memicu burnout lebih cepat.
Tips Manajemen Stres yang Bisa Kamu Terapkan
Untuk menghadapi tekanan di era digital, di bawah ini beberapa langkah manajemen stres yang realistis dan bisa langsung kamu coba:
-
Buat Jadwal Offline (Digital Detox)
Luangkan waktu di mana kamu sengaja tidak membuka ponsel atau laptop. Misalnya satu jam setelah bangun tidur atau sebelum tidur malam. Dengan memberi jeda pada otak, kamu membiarkan pikiran kembali tenang tanpa stimulasi digital. Praktik ini juga membantu memperbaiki suasana hati dan kualitas tidur.
-
Kelola Ekspektasi di Media Sosial
Sadari bahwa media sosial dipenuhi hal-hal yang sudah dikurasi, bukan kehidupan asli seseorang sepanjang waktu. Fokus pada perkembangan diri sendiri dan kurangi kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain. Dengan menetapkan ekspektasi yang lebih realistis, kamu bisa mengurangi stres karena tekanan pencapaian yang tidak perlu.
-
Latihan Mindfulness dan Journaling
Mindfulness membantu kamu hadir penuh di saat ini, bukan sibuk memikirkan masa depan atau masa lalu. Latihan pernapasan atau meditasi 5–10 menit per hari bisa menurunkan hormon stres. Journaling membantu menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam tulisan sehingga beban mental terasa lebih ringan dan terstruktur.
-
Olahraga Ringan dan Pola Makan Seimbang
Aktivitas fisik seperti berjalan santai, bersepeda, atau yoga bisa melepas hormon endorfin yang memperbaiki mood. Kombinasikan dengan makan teratur, konsumsi sayur, buah, dan cukup air putih. Ketika tubuh lebih sehat, pikiran pun jauh lebih stabil menghadapi tekanan.
-
Istirahat Cukup & Perbaiki Pola Tidur
Tidur cukup bukan sekadar kuantitas, tapi juga kualitas. Hindari begadang dan kurangi paparan layar setidaknya satu jam sebelum tidur. Jadwalkan tidur di jam yang sama setiap malam agar ritme tubuh seimbang, karena kurang tidur bisa memperparah stres dan mengganggu produktivitas.
-
Cari Support System
Berbagi cerita ke orang terdekat bisa memberikan perspektif baru. Dukungan emosional dari keluarga, teman, atau komunitas membantu kamu merasa tidak sendirian. Jika perlu, jangan ragu konsultasi ke psikolog untuk mendapat bantuan profesional.
Kenapa Jaga Jiwa Xtra Penting di Tengah Tekanan Hidup?
Jaga Jiwa Xtra dari JAGADIRI bisa jadi “plan B” ketika kesehatan menurun akibat stres atau kondisi lain. Dengan premi mulai dari Rp132 ribu per bulan, kamu sudah mendapat perlindungan jiwa hingga santunan meninggal dunia. Bahkan, jika tidak terjadi klaim selama masa pertanggungan, premi kembali hingga 110 persen*.
Asuransi tidak membuat stres hilang, tapi setidaknya membuat masa depan keluarga tetap aman kalau hal terburuk terjadi. Jadi sambil menjaga kesehatan mental lewat manajemen stres, lindungi juga stabilitas keuanganmu. Ayo cek informasi selengkapnya di website JAGADIRI, masih banyak manfaat lainnya, lho!