

Awal tahun sering identik dengan semangat baru. Kalender masih bersih, resolusi baru ditulis, dan target hidup terasa lebih optimistis. Banyak orang berharap Januari menjadi “fresh start” untuk segalanya, mulai dari karier, keuangan, hingga hubungan pribadi. Namun, realitanya tidak selalu seindah itu.
Alih-alih merasa termotivasi, tidak sedikit orang justru merasa cemas, tertekan, bahkan kelelahan secara mental di awal tahun. Ada yang merasa harus langsung produktif setelah libur panjang, ada pula yang terbebani resolusi besar yang terasa sulit dicapai. Tanpa disadari, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental di awal tahun.
Sayangnya, topik kesehatan mental masih sering dikesampingkan. Banyak yang menganggap perasaan lelah, overthinking, atau kehilangan semangat sebagai hal sepele yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, menjaga kesehatan mental sejak awal tahun adalah langkah penting agar kita bisa menjalani satu tahun ke depan dengan lebih stabil dan sehat, baik secara emosional maupun fisik.
Kenapa Kesehatan Mental di Awal Tahun Bisa Terganggu?
Ada beberapa alasan umum kenapa awal tahun justru menjadi periode yang cukup berat bagi sebagian orang.
-
Tekanan Resolusi yang Terlalu Tinggi
Resolusi sering dibuat dengan penuh optimisme, tetapi tanpa strategi yang realistis. Target yang terlalu besar atau terlalu banyak bisa menimbulkan tekanan sejak awal. Ketika merasa “belum apa-apa tapi sudah tertinggal”, rasa cemas pun muncul.
Alih-alih memotivasi, resolusi yang tidak terukur justru bisa menurunkan kepercayaan diri dan memengaruhi kesehatan mental.
-
Transisi dari Libur ke Rutinitas
Libur akhir tahun memberi jeda dari rutinitas yang padat. Ketika kembali bekerja atau kuliah, tubuh dan pikiran perlu waktu untuk beradaptasi. Jika transisi ini terlalu dipaksakan, rasa lelah mental bisa muncul. Kondisi ini sering disebut sebagai post-holiday blues, dan cukup umum terjadi di awal tahun.
-
Tekanan Sosial dan Perbandingan
Awal tahun sering dipenuhi konten “new year, new achievement”. Melihat pencapaian orang lain bisa memicu perasaan tertinggal atau kurang berhasil, terutama jika kita sedang berada di fase hidup yang berbeda.
Perbandingan sosial yang berlebihan dapat memperburuk kondisi kesehatan mental, terutama jika tidak diimbangi dengan self-awareness yang baik.
-
Kekhawatiran Finansial dan Karier
Target keuangan, cicilan, atau rencana karier sering dievaluasi ulang di awal tahun. Bagi sebagian orang, ini memunculkan kecemasan tentang masa depan, apalagi jika kondisi ekonomi belum stabil.Kekhawatiran ini wajar, tapi jika dibiarkan berlarut-larut bisa berdampak pada kesehatan mental secara keseluruhan.
Tanda Kesehatan Mental Perlu Diperhatikan
Kesehatan mental tidak selalu menunjukkan tanda yang ekstrem. Justru sering muncul dalam bentuk hal-hal kecil yang dianggap biasa.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain:
-
Mudah lelah meski aktivitas tidak terlalu berat
-
Sulit fokus atau merasa pikiran “penuh”
-
Gangguan tidur, baik sulit tidur atau tidur berlebihan
-
Mudah cemas, overthinking, atau merasa gelisah
-
Kehilangan motivasi pada hal-hal yang biasanya disukai
Jika tanda-tanda ini muncul terus-menerus, itu sinyal bahwa kesehatan mental di awal tahun perlu mendapat perhatian lebih.
Cara Menjaga Kesehatan Mental di Awal Tahun
Menjaga kesehatan mental tidak selalu membutuhkan langkah besar. Justru perubahan kecil yang konsisten sering kali lebih berdampak.
-
Buat Resolusi yang Realistis dan Fleksibel
Alih-alih membuat banyak target besar, fokuslah pada resolusi yang spesifik dan bisa dicapai. Misalnya, bukan “harus sukses tahun ini”, tetapi “ingin lebih konsisten menjaga kesehatan dan keseimbangan hidup”.
Resolusi yang fleksibel memberi ruang untuk gagal dan belajar tanpa menghakimi diri sendiri.
-
Atur Ulang Ekspektasi Diri
Tidak semua orang memulai tahun dengan kondisi yang sama, dan itu tidak masalah. Memberi waktu pada diri sendiri untuk beradaptasi adalah bentuk self-care yang sering diabaikan.
Produktif bukan berarti harus selalu sibuk. Kadang, berhenti sejenak justru membantu mental lebih stabil.
-
Jaga Pola Tidur dan Aktivitas Fisik
Tidur cukup dan aktivitas fisik ringan punya dampak besar pada kesehatan mental. Jalan kaki, stretching, atau olahraga ringan membantu tubuh melepaskan hormon yang memperbaiki mood.
Kesehatan mental dan fisik saling terhubung. Ketika tubuh dirawat, pikiran pun ikut lebih seimbang.
-
Batasi Konsumsi Media Sosial
Media sosial bisa menjadi sumber inspirasi, tapi juga tekanan. Mengatur waktu screen time dan menyaring konten yang dikonsumsi dapat membantu mengurangi perasaan cemas dan membandingkan diri secara berlebihan. Ingat, apa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan realitas sepenuhnya.
Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Fisik
Selama ini, banyak orang baru peduli kesehatan saat tubuh terasa sakit. Padahal, kondisi mental yang tidak sehat bisa berdampak panjang, bahkan memengaruhi kesehatan fisik dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Menjaga kesehatan mental berarti menjaga kemampuan kita untuk bekerja, bersosialisasi, dan menikmati hidup. Ini bukan soal drama atau lebay, melainkan kebutuhan dasar setiap individu. Awal tahun adalah waktu yang tepat untuk mulai menempatkan kesehatan mental sebagai prioritas, bukan sekadar resolusi tambahan.
Selain merawat kondisi mental dan emosional, melindungi diri dan keluarga dari risiko hidup juga tidak kalah penting. Jaga Jiwa Xtra dari JAGADIRI hadir sebagai perlindungan jiwa dengan keuntungan ekstra, dengan premi mulai Rp132 ribu per bulan.
Manfaatnya meliputi:
-
Santunan meninggal dunia bukan akibat kecelakaan
-
Santunan meninggal dunia akibat kecelakaan
Dengan perlindungan ini, kamu bisa menjalani hidup dengan lebih tenang, fokus menjaga kesehatan mental dan fisik tanpa harus terus-menerus dibayangi rasa khawatir.
Karena peduli pada kesehatan mental bukan hanya soal hari ini, tapi juga tentang kesiapan menghadapi masa depan. Yuk, mulai tahun ini dengan langkah yang lebih mindful dan aman bersama Jaga Jiwa Xtra dari JAGADIRI.